Blogger Widgets INVESTOR NEWS UPDATE | Bisnis, Ekonomi dan Investasi: Rupiah Terpuruk, Bukan yang Terburuk di Asia

Indonesia Daily Business Review

Rupiah Terpuruk, Bukan yang Terburuk di Asia

Tidak hanya bursa saham, nilai tukar mata uang negara-negara di Asia juga menunjukkan tren penurunan sepanjang semester I 2013. Selain mata uang rupiah yang melemah hingga menembus Rp 10.000 per per dolar AS, sejumlah mata uang negara lainnya malah menurun jauh lebih tajam.

Pelemahan mata uang kawasan ini dipicu oleh perkiraan kebijakan quantitative easing untuk memompa perekonomian Amerika Serikat yang akan dihentikan oleh the Federal Reserve, bank sentral AS. Rencana ini mendorong modal asing ditarik dari negara-negara emerging market lantaran kondisi ekonomi Amerika Serikat diyakini bakal segera pulih.

Data Bloomberg untuk periode 28 Desember 2012 hingga 28 Juni 2013 menyebutkan mata uang Yen, Jepang mengalami pelemahan paling tajam hingga 13 persen. Selain Yen, mata uang negara lain yang mengalami kemerosotan adalah Rupee India hingga 7,8 persen, Korea Selatan hingga minus 6,3 persen dan Filipina minus 4,9 persen.

Sedangkan, sepanjang semester I, data tersebut menyebutkan kurs rupiah hanya melemah sebesar minus 3 persen, yakni dari Rp 9.679 per dolar AS pada 28 Desember 2012 ke level Rp 10.004 per dolar AS pada 28 Juni 2013.

Untuk mengantisipasi pelemahan nilai tukar tersebut, sejumlah negara melakukan berbagai langkah. Bank Indonesia misalnya melakukan intervensi ke pasar uang dalam jumlah yang cukup besar untuk menjaga kurs rupiah. Akibatnya, cadangan devisa sepanjang Juni terkuras cukup besar, mencapai US$ 7 miliar sehingga cadangan devisa turun menjadi US$ 98 miliar pada akhir Juni 2013.

"BI akan terus menjaga supaya nilai tukar rupiah berada dalam kondisi yang mencerminkan kondisi fundamental ekonomi, serta menjaga likuiditas valas melalui intervensi," ujar Gubernur BI, Agus Martowardojo saat jumpa pers akhir pekan lalu.

Gubernur Federal Reserve, Ben S Bernanke pertama kali menyebutkan pada 22 Mei bahwa pembelian obligasi akan dikurangi jika ada perbaikan yang berkelanjutan di pasar tenaga kerja Amerika Serikat, ekonomi terbesar di dunia. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa jumlah peluang kerja baru bertambah sebesar 165 ribu pekerja pada Juni 2013 dibandingkan dengan 175 ribu pekerjaan baru pada Mei 2013.

"Dolar yang menguat secara global sebagai akibat perbaikan pasar tenaga kerja di Amerika Serikat menambah keyakinan the Fed untuk mempercepat penghentian stimulus," ujar Son Eun Jeong, analis dari Woori Futures Co di Seoul seperti dikutip Bloomberg (5/7).
.