Blogger Widgets INVESTOR NEWS UPDATE | Bisnis, Ekonomi dan Investasi: Ekonomi Melambat, Saham BRI Tetap Menarik Dibeli

Indonesia Daily Business Review

Ekonomi Melambat, Saham BRI Tetap Menarik Dibeli

Laba bersih PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengalami pertumbuhan 17,3 persen YoY menjadi Rp 15,4 triliun pada kuartal ketiga 2013. Pada periode yang sama, pendapatan bunga naik 14,8 persen menjadi Rp 42,1 triliun, didorong oleh pendapatan dari bunga kredit yang  melonjak 17,5 persen menjadi Rp 36,7 triliun.

Sedangkan, beban bunga meningkat 9,4 persen menjadi Rp 10,9 triliun. Ini akibat pertumbuhan deposito berjangka, tabungan dan giro sebesar 32,1 persen, 17,9 persen, dan 10,9 persen YoY. Biaya dana menurun dari 3,75 persen menjadi 3,58 persen pada Q3-2013. Rasio dana murah (CASA) juga menurun dari 59,7 persen menjadi 56,4 persen akibat semakin luasnya segmen deposito berjangka.


Margin bunga bersih (NIM) turun dari 8,43 persen menjadi 8,25 persen pada Q3/13. Selain itu, fee based income (FBI) memberi kontribusi terhadap total pendapatan sebesar 7,3 persen pada Q3/13 dengan biaya administrasi dan biaya terkait e-banking menyumbang masing – masing 61,2 persen dan 13 persen dari total pendapatan dari komisi. Beban operasional lainnya meningkat 16,5 persen YoY menjadi Rp 16,5 triliun, menyusul gaji dan tunjangan karyawan yang meningkat.

Pinjaman BRI saat ini melonjak 30,1 persen YoY menjadi Rp 416,6 triliun pada Q3/13. Pada periode yang sama, kredit mikro meningkat sebesar 26,8 persen menjadi Rp 128,2 triliun. Kredit BUMN dan korporasi tumbuh tajam sebesar 41,8 persen menjadi Rp 110,9 triliun. Sedangkan kredit komersial kecil naik 26,5 persen menjadi Rp 82 triliun.

Dana pihak ketiga juga meningkat sebesar 22,3 persen menjadi Rp 471,2 triliun, dan deposito berjangka mencatat peningkatan terbesar hingga 32,1 persen menjadi Rp 205,2 triliun pada Q3/13. Rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga (LDR) naik hingga 88,4 persen, sedangkan NPL membaik menjadi 1,77 persen. Ini menunjukkan adanya perbaikan kualitas kredit. Mengikuti LDR yang tinggi, BRI telah meningkatkan deposito berjangka dalam rangka untuk mengantisipasi pengetatan lebih lanjut dalam likuiditas. CAR naik tipis menjadi 17,1 persen.

Mikro tetap menjadi segmen inti portfolio kredit

BRI terus memperluas kredit mikro yang memberi kontribusi hingga 31 persen dari total kredit di Q3/13. Kredit mikro dan KUR tumbuh 24,1 persen dan 43,8 persen masing – masing dengan jumlah peminjam meningkat menjadi 6,1 juta pelanggan. Sementara itu, kontribusi dari Teras BRI sebagai unit mikro yang luas meningkat menjadi 7 persen dari kredit segmen ini. Ke depan, BRI mengklaim akan mempertahankan posisinya sebagai pemain terkemuka di perbankan mikro Indonesia.

Faktor kenaikan BI Rate dan rendahnya proyeksi PDB tahun 2013, telah mendorong BRI untuk mempertahankan kinerja di tengah tantangan ekonomi domestik. Biaya dana BRI masih tetap bisa dikelola dengan baik dan diperkirakan akan meningkat sebesar 15-20 persen pada Q4/13. BRI juga akan secara bertahap menaikkan suku bungsa pinjaman dalam rangka penyesuaian terhadap biaya dana yang tinggi.

Pertumbuhan kredit BRI pada Q4/13 diperkirakan akan mencapai 22-23 persen karena akan adanya penarikan pinjaman dari beberapa BUMN. BRI memproyeksikan pertumbuhan kredit sebesar 20-22 persen pada 2014. Namun demikian, pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil dan menengah diperkirakan akan tetap kuat mengingat permintaan pada segmen tersebut akan naik karena kebutuhan pembiayaan yang lebih tinggi pada masa pemilu.

Dengan perekenomian Indonesia yang mungkin terus melambat, kami memperkirakan ekspansi kredit korporasi akan sedang – sedang saja, sementara kredit mikro melonjak antara 24-25 persen pada 2014. Potensi pergeseran kelebihan likuiditas ke segmen mikro dengan hasil yang lebih tinggi dapat menyebabkan berkurangnya tekanan pada margin bunga bersih.

Tetap BUY dengan TP Rp 10.000

Kami mempertahankan target harga kami untuk BRI Rp 10.000 per saham, artinya 10,6x 2014F PER (price earning ratio) dan 2,5x 2014F PBV (price to book value). Rekomendasi tersebut didasarkan pada penilaian kami dengan menggunakan asumsi ROE (return on equity) sebesar 24 persen dan cost of equity sebesar 15,8 persen.

Kami percaya pertumbuhan kredit akan tetap kuat pada 2014. Pinjaman lebih tinggi dari kredit usaha mikro, kecil dan menengah dapat menguntungkan ekspansi BRI. Dengan demikian, peningkatan bobot pinjaman dan potensi kenaikan suku bunga kredit harus mengarah pada NIM yang berkelanjutan, terlepas dari adanya tekanan ke atas pada biaya dana dan prospek ekonomi pada tahun 2014. Karena itu, kami mempertahankan rekomendasi BELI/BUY dengan potensi upside sebesar 18,3 persen.

----------
Tentang Budi Rustanto, CFA, Analis Valbury Asia Securities

Budi Rustanto adalah analis senior dari Valbury Asia Securities yang secara khusus membidangi soal otomotif, banking, alat-alat berat dan semen. Sebagai seorang analis, selain secara rutin membuat research report tentang perusahaan publik, Budi juga membuat model finansial dan rekomendasi terkait pergerakan saham di pasar modal.

Sebelum bekerja di Valbury, Budi mengenyam pengalaman sebagai analis di Grup Gudang Garam dan PT Astra International Tbk. Dia juga aktif sebagai pengajar di CSA Institute tentang Analisis terkait Kinerja Keuangan.

Untuk meningkatkan kapasitasnya sebagai analis finansial, Budi telah memenuhi sejumlah sertifikasi seperti Chartered Financial Analyst (CFA), Certified Securities Analyst (CSA) dan Financial Risk Management (FRM). Dia juga memperoleh gelar Master Manajemen bidang Keuangan dari Prasetiya Mulya Business School.
----------