Blogger Widgets INVESTOR NEWS UPDATE | Bisnis, Ekonomi dan Investasi: Akhir 2013, Rupiah akan di Level 11.200 per US$

Indonesia Daily Business Review

Akhir 2013, Rupiah akan di Level 11.200 per US$

Setelah sebulan penuh gejolak, bahkan nilai tukar rupiah sempat menembus 11.618 per US$ pada 1 Oktober, kini kurs rupiah kembali menguat ke level 10.766 pada 23 Oktober. Itu terjadi menyusul perpanjangan sementara kenaikan plafon utang Amerika Serikat hingga awal 2014.

Kami memperkirakan hingga akhir 2013, nilai tukar rupiah akan berada di kisaran 11.200 per US$. Ini lebih kuat dibandingkan perkiraan kami sebelumnya di level 11.500 per US$. Membaiknya kurs rupiah dipicu oleh kembalinya modal asing serta membaiknya transaksi berjalan Indonesia. 


Di saat kondisi ekonomi global memang mulai tenang, masalah domestik turut membantu penguatan kurs. Pasar menyambut positif ketika neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$ 132,4 juta pada Agustus setelah mengalami defisit sejak Oktober 2012. Ini memberikan sinyal bahwa defisit transaksi berjalan sudah mencapai puncak sebesar 4,4 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal kedua 2013. Saat ini, nilai tukar rupiah seharusnya berada di kisaran 11.000 - 11.500 hingga defisit mencapai level yang bisa dikelola.

Obligasi Indonesia kembali mendapat dukungan dari investor asing pasca Amerika Serikat menaikkan plafon utang dan pengumuman penundaan the Fed terkait pengurangan injeksi moneter. Kepemilikan asing terhadap obligasi Indonesia mencapai level puncak yang baru sebesar US$ 309,05 triliun pada 24 Oktober, melebihi posisi pada 16 Mei sebesar US$ 306,6 triliun. Namun, rasio terhadap total obligasi, porsi kepemilikan asing sebesar 31,4 persen, lebih rendah di bawah posisi 16 Mei sebesar 34,6 persen.

Sebaliknya, untuk pasar modal, investor asing masih cenderung menghindar. Itu terlihat dari penjualan bersih oleh investor asing sebesar US$ 156,5 juta pada Oktober, sementara investasi asing sepanjang tahun ini menurun US$ 1,01 miliar. Jadi, dengan rencana the Fed menunda kebijakan pengurangan injeksi moneter dan defisit transaksi berjalan yang mengecil, kami tidak lagi memperkirakan nilai tukar rupiah akan menembus 11.500 pada akhir tahun 2013, melainkan akan berkisar pada 11.200 per dolar AS.

Pertumbuhan ekonomi meskipun akan moderat, konsumsi domestik belum akan melambat secara signifikan. Itu tercermin dari penjualan mobil dan sepeda motor yang masih kuat, yakni masing-masing tumbuh sebesar 5,2 persen dan 14,6 persen pada September. Ini lebih tinggi dibandingkan Juli yang tumbuh 2 persen dan 10,9 persen.

Lebih dari itu, kredit perbankan juga mengalami sedikit kenaikan pertumbuhan dari 22 persen pada Juli menjadi 22,2 persen pada Agustus 2013. Namun, pertumbuhan kredit ini bisa saja karena terdistorsi akibat libur Lebaran. Pertumbuhan ekonomi mungkin tidak akan tumbuh signifikan pada triwulan ketiga 2013. Menteri Keuangan memperkirakan ekonomi akan tumbuh sekitar 5,8 persen year on year pada kuartal ketiga tahun ini. Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan berkisar pada 5,5-5,9 persen pada 2013.

Setelah mengalami percepatan pada Juni, inflasi mencapai level lebih tinggi pada 8,79 persen yoy pada Agustus. Inflasi kembali menurun menjadi 8,4 persen yoy pada September yang mencerminkan terjadinya penurunan pada harga bahan makanan akibat pemerintah mengurangi pembatasan impor untuk bahan makanan. Untuk satu tahun ke depan, inflasi diperkirakan akan mencapai rata-rata 7,07 persen.

Sejak bank sentral menaikkan suku bunga BI Rate dan Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (FasBI) sebesar 150 basis poin dan 125 basis poin, bank sentral belum mengubah kembali posisi tersebut untuk pertama kalinya pada Oktober. Keputusan itu didasarkan pada surplus neraca perdagangan, inflasi moderat dan cadangan devisa meningkat US$ 2,68 miliar menjadi US$ 95,68 miliar pada September.

Namun, masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa kenaikan suku bunga sudah cukup. Kebijakan the Fed yang menunda pengurangan injeksi moneter pada tahun depan menurunkan tekanan terhadap BI untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. Ini tentu tidak boleh disia-siakan. BI dan pemerintah harus melanjutkan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi ketidakseimbangan transaksi berjalan mengarah ke tingkat yang lebih mudah dikelola. Di tengah tekanan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang moderat, kami memperkirakan BI akan menjaga BI Rate stabil di posisi 7,25 persen hingga akhir tahun ini.

Artikel ini disarikan dari Maybank FX Monthly Research - November yang dirilis pada 31 Oktober 2013.

----------
Tentang Saktiandi Supaat, Ekonom Maybank Global Market
Saktiandi adalah ekonom berpengalaman yang memiliki keahlian analisis pasar finansial Asia dan G3 (Amerika Serikat, Eropa dan Jepang), valuta asing, neraca pembayaran dan portofolio pemodelan ekonomi. Sebelumnya, Saktiandi bekerja di Otoritas Moneter Singapura (MAS) selama 11 tahun yang bertugas mengawasi keuangan, pemodelan ekonomi, neraca pembayaran dan devisa. Jabatan terakhir di MAS sebagai Kepala Ekonom.

Sekarang, dia menjabat sebagai Kepala Riset/Strategi Forex di Grup Maybank di Singapura. Dia memimpin tim penelitian pasar valuta untuk pasar global - ekonom dan analis pasar valuta - yang mencakup mata uang negara G7, serta kawasan regional yang meliputi Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina dan Thailand.

Peraih gelar MBA bidang Finansial dari University of Cambridge, serta Master bidang Ekonomi dari National University of Singapore ini juga pernah bekerja sebagai ekonom treasury di UOB. Saktiandi bersama tim ekonom Maybank sangat produktif menyampaikan update melalui Maybank FX Research.

----------