Blogger Widgets INVESTOR NEWS UPDATE | Bisnis, Ekonomi dan Investasi: Rupiah Melemah, Kenaikan BI Rate Percuma

Indonesia Daily Business Review

Rupiah Melemah, Kenaikan BI Rate Percuma

Kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate yang dilakukan oleh bank sentral pada pertengahan November sebesar 0,25 persen menjadi 7,5 persen tidak memiliki dampak yang berarti bagi upaya penguatan nilai tukar rupiah. Apalagi, bank sentral justru terkesan sengaja memperlemah kurs rupiah untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan.

Sejatinya, kurs rupiah sempat kembali menguat pada akhir Oktober lalu mendekati 10.000 per dolar AS. Namun, untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan, saya mendengar bank sentral sengaja melemahkan nilai tukar rupiah. Bahkan, Pertamina juga diminta mencari dolar di pasar untuk memenuhi kebutuhan valas buat impor bahan bakar minyak.


Tak pelak, kurs rupiah pun melemah hingga ke level 11.500 pada pertengahan November. Bahkan, kurs rupiah terus melemah mendekati 12.000 per dolar AS pada akhir November.

Akibatnya, kebijakan menaikkan BI Rate pada pertengahan November percuma. Kenaikan tersebut, sesungguhnya juga merupakan keputusan tidak diduga oleh kalangan analis pasar. Mereka berpandangan bahwa BI Rate tidak akan dinaikkan, namun BI justru menaikkannya. Padahal, rencana Amerika Serikat untuk melakukan tapering atau penghentian stimulus moneter ditunda.

Semestinya, bank sentral menyimpan amunisi untuk menaikkan suku bunga. Kebijakan itu bisa dipakai kembali pada saat penghentian stimulus moneter benar-benar dilakukan pada saatnya nanti.

Tindakan BI tersebut menjadi sinyal bagi investor asing. Ketika mereka tidak berharap suku bunga dinaikkan, BI justru menaikkan BI Rate. Ini bisa memberikan kesan bahwa bank sentral dengan mudah menaikkan suku bunga.

Sekarang, nilai tukar rupiah berada di kisaran 12.000 per dolar AS. Jika ini terus berlanjut, level kurs tersebut akan berbahaya bagi perekonomian. Apalagi, jika suku bunga semakin tinggi, dampaknya juga akan memukul perekonomian.

Semestinya, persoalan defisit neraca perdagangan bukan hanya ditangani dengan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga. Melainkan, harus didukung oleh kebijakan sektor riil. Masalah yang dihadapi juga persoalan struktural bahwa defisit neraca perdagangan disebabkan oleh tingginya impor dan melemahnya ekspor.

Pemerintah musti segera menangani persoalan tersebut dengan kebijakan non moneter. Misalnya, untuk mengurangi impor, pemerintah perlu segera menerapkan kebijakan fiskal, berupa kenaikan pajak penghasilan untuk barang impor. Selain itu, pemerintah perlu segera membenahi industri manufaktur agar bisa menggantikan barang impor. 


--------------------------
Tentang Anton Hendranata, Ekonom Bank Danamon
Anton Hendranata adalah ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Dia dikenal memiliki keahlian di bidang ekonometrika dan makro ekonomi. Bersama tim ekonom di Bank Danamon, Anton secara rutin menyampaikan hasil riset dan ulasan mengenai perkembangan makro ekonomi terkini.

Selama lebih dari 20 tahun, Anton berkecimpung di bidang ekonomi mulai dari Staf Peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia hingga menjadi pengajar di FEUI. Anton memperoleh gelar Sarjana Statistik dari Institut Pertanian Bogor dan doktor Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

---------------------------